|
|||
![]() |
|||
MAHALNYA ONGKOS DEMOKRASI
Oleh:M.Yusuf Wibisono
Beberapa
hari yang lalu (sebelum pemilu), saya
berdiskusi dengan caleg DPR RI untuk Dapil wilayah kota tertentu di Jawa Barat pada Pemilu legislatif 2009. Dari obrolan
itu banyak informasi yang saya dapatkan
terutama menyangkut sepak terjang para wakil rakyat selama ini langsung dari
sumber aslinya. Kebetulan dia juga sudah dua periode duduk di Senayan sebagai
wakil rakyat , jadi cukup pengalaman
dalam mengilustrasikan berbagai anekdot wakil rakyat yang “terhormat” itu.
Singkat
cerita, menurut dia pemilu 2009 adalah sangat berat dan besar “ongkosnya”.
Bukan hanya ongkos finansial, tetapi
sosial, politik, keamanan, psikologis dan yang jelas ekonomi. Kenapa demikian,
karena pemilu 2009 lebih ditekankan suara terbanyak dari masing-masing calon
legislatif, dan bukan karena nomor urut seperti pemilu-pemilu yang lalu. Sistem
yang seperti ini bagi caleg yang sudah punya investasi popularitas di
masyarakat mungkin tidak begitu berat. Namun bagi caleg yang baru memulai dan
belum banyak dikenal masyarakat menambah sederet kerja keras yang sulit
dibayangkan. Belum lagi, regulasi lainnya yang banyak memberikan beban tambahan
bagi mereka, seperti caleg harus transparan dalam mengelolah anggaran kampanye.
Akhir diskusi kesimpulannya,
“pokoknya para caleg periode sekarang ini
siap-siap stress”, ungkap caleg DPR RI itu.
Dari
caleg DPR RI itu juga, saya dapatkan
informasi bahwa negara dalam menyelenggarakan Pemilu Legislatif dan
Presiden2009 menghabiskan kurang lebih 25 Triliun. Jumlah ini luar biasa
fantastis, dan bukan ongkos yang kecil ditengah-tengah krisis global yang juga
menerpa bangsa kita. Belum lagi ongkos-ongkos lainnya (sosial, politik, budaya
dan keamanan). Yang jelas, demokrasi mahal ongkosnya. Namun sampai hari ini, sepertinya
demokrasi lah yang lebih kecil resikonya ketimbang otoriterian.
Berikutnya,
yang kita harapkan dari demokrasi adalah tatanan Indonesia yang lebih beradab, bermartabat
dan memanusiakan manusia. Siapapun yang jadi wakil rakyat, dan pimpinan
nasional di kemudian hari, tidak ada tawar-menawar harus dapat memberikan
kontribusi yang terbaik bagi seluruh rakyat Indonesia. Hari ini, rakyat sudah
melek politik. Hari ini rakyat sudah bangun dari tidurnya. Hari ini rakyat
sudah siap menentukan pilihan demokrasinya. Hari ini, karena sistem demokrasi
yang dipilih menjadi “semen” politik di Indonesia, maka harus dihargai,
dihormati dan diperlakukan dengan semestinya. Demokrasi jangan diciderai,
dilecehkan dan diperlakukan dengan tidak terhormat. Sebab, bila terjadi, rakyat
kehilangan kepercayaannya dengan demokrasi yang pada gilirannya memunculkan
anarkhisme dan otoritarianisme.
TITIK TEMU AGAMA-AGAMA
Oleh:M.Yusuf Wibisono*
Keberadaan
agama-agama di dunia seringkali menjadi topik pembahasan yang tak
henti-hentinya dari masa ke masa. Terutama yang menyangkut agama-agama besar
seperti Yahudi, Kristen dan Islam, yang menurut sejarah Islam adalah dari satu
keturunan yang sama yaitu dari Nabi Ibrahim, atau dikenal dengan ”Bapak para
Nabi” (abul-anbiya’). Ibrahim juga dijuluki “Bapak Orang Beriman” dalam tiga
tradisi agama Yahudi, Kristen dan Islam, meskipun pada gilirannya konsep
keimanan di antara tiga agama tersebut menjadi pemicu perbedaan yang berarti
sampai saat ini.