Madrasah Aliyah Negeri Malang 1 MAGESA 
  Minggu, 5 September 2010  
   Home   Profil   Fasilitas   Kesiswaan   Kurikulum   Interaksi   Informasi   Diploma 1   Akselerasi   
a

Daftar Artikel

Print
MAHALNYA ONGKOS DEMOKRASI

MAHALNYA ONGKOS DEMOKRASI

Oleh:M.Yusuf Wibisono

 

Beberapa hari yang lalu (sebelum pemilu),  saya berdiskusi dengan caleg DPR RI untuk Dapil wilayah kota tertentu di Jawa Barat  pada Pemilu legislatif 2009. Dari obrolan itu  banyak informasi yang saya dapatkan terutama menyangkut sepak terjang para wakil rakyat selama ini langsung dari sumber aslinya. Kebetulan dia juga sudah dua periode duduk di Senayan sebagai wakil rakyat ,  jadi cukup pengalaman dalam mengilustrasikan berbagai anekdot wakil rakyat yang “terhormat” itu.

Singkat cerita, menurut dia pemilu 2009 adalah sangat berat dan besar “ongkosnya”. Bukan hanya ongkos  finansial, tetapi sosial, politik, keamanan, psikologis dan yang jelas ekonomi. Kenapa demikian, karena pemilu 2009 lebih ditekankan suara terbanyak dari masing-masing calon legislatif, dan bukan karena nomor urut seperti pemilu-pemilu yang lalu. Sistem yang seperti ini bagi caleg yang sudah punya investasi popularitas di masyarakat mungkin tidak begitu berat. Namun bagi caleg yang baru memulai dan belum banyak dikenal masyarakat menambah sederet kerja keras yang sulit dibayangkan. Belum lagi, regulasi lainnya yang banyak memberikan beban tambahan bagi mereka, seperti caleg harus transparan dalam mengelolah anggaran kampanye. Akhir diskusi  kesimpulannya, “pokoknya  para caleg periode sekarang ini siap-siap stress”, ungkap caleg DPR RI itu.

Dari caleg DPR RI itu juga,  saya dapatkan informasi bahwa negara dalam menyelenggarakan Pemilu Legislatif dan Presiden2009 menghabiskan kurang lebih 25 Triliun. Jumlah ini luar biasa fantastis, dan bukan ongkos yang kecil ditengah-tengah krisis global yang juga menerpa bangsa kita. Belum lagi ongkos-ongkos lainnya (sosial, politik, budaya dan keamanan). Yang jelas, demokrasi mahal ongkosnya. Namun sampai hari ini, sepertinya demokrasi lah yang lebih kecil resikonya ketimbang otoriterian.

Berikutnya, yang kita harapkan dari demokrasi adalah tatanan Indonesia yang lebih beradab, bermartabat dan memanusiakan manusia. Siapapun yang jadi wakil rakyat, dan pimpinan nasional di kemudian hari, tidak ada tawar-menawar harus dapat memberikan kontribusi yang terbaik bagi seluruh rakyat Indonesia. Hari ini, rakyat sudah melek politik. Hari ini rakyat sudah bangun dari tidurnya. Hari ini rakyat sudah siap menentukan pilihan demokrasinya. Hari ini, karena sistem demokrasi yang dipilih menjadi “semen” politik di Indonesia, maka harus dihargai, dihormati dan diperlakukan dengan semestinya. Demokrasi jangan diciderai, dilecehkan dan diperlakukan dengan tidak terhormat. Sebab, bila terjadi, rakyat kehilangan kepercayaannya dengan demokrasi yang pada gilirannya memunculkan anarkhisme dan otoritarianisme.

Dikirim tgl 15 Jul 2009 oleh admin magesa

Print
TITIK TEMU AGAMA-AGAMA

TITIK TEMU AGAMA-AGAMA

Oleh:M.Yusuf Wibisono*

 

Keberadaan agama-agama di dunia seringkali menjadi topik pembahasan yang tak henti-hentinya dari masa ke masa. Terutama yang menyangkut agama-agama besar seperti Yahudi, Kristen dan Islam, yang menurut sejarah Islam adalah dari satu keturunan yang sama yaitu dari Nabi Ibrahim, atau dikenal dengan ”Bapak para Nabi” (abul-anbiya’). Ibrahim juga dijuluki “Bapak Orang Beriman” dalam tiga tradisi agama Yahudi, Kristen dan Islam, meskipun pada gilirannya konsep keimanan di antara tiga agama tersebut menjadi pemicu perbedaan yang berarti sampai saat ini.

Selengkapnya •
Dikirim tgl 31 Mar 2009 oleh admin magesa

Print
Ditemukan 10 Planet Baru di Luar Tata Surya
Sebuah kelompok astronom internasional telah menemukan 10 planet baru yang pusat orbitnya bukan matahari. Tim itu menggunakan kamera robotik yang mendapatkan informasi cukup banyak tentang dunia lain tersebut, bahkan ada yang cukup eksotis. Sistem ini diharap akan merevolusi pandangan ilmu pengetahuan tentang pembentukan planet.
Selengkapnya •
Dikirim tgl 11 May 2008 oleh admin magesa

Print
LANGKAH MUDAH MEMBUAT BUKU
Nyawa sebuah buku—apa pun jenis buku itu—terletak pada apakah di dalam buku tersebut ada ide atau gagasan. Buku hanya terdiri atas sederetan teks yang disusun secara berkelompok menjadi bab-bab dan sub-subbab. Kadang, di lembar-lembar halaman buku itu terdapat semacam gambar atau ilustrasi. Namun, apa pun bentuk dan jenis buku tersebut, jika di dalamnya tak ada ide, buku itu tak bisa dikatakan “hidup”.
Selengkapnya •
Dikirim tgl 11 May 2008 oleh admin magesa